Jakarta – Libur panjang di depan mata. Ratusan ribu kendaraan menggelinding meninggalkan kota. Bergerak diatas roda yang berputar tanpa lelah.
Tanpa lelah?
Sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Ban bisa capek dan pada titik tertentu harus diganti. Karena ban adalah komponen paling sibuk, paling tertekan dan ironisnya paling sering diabaikan.
Coba bayangkan fakta sederhana namun krusial berikut; ban menjadi satu-satunya bagian mobil yang benar-benar menyentuh aspal. Dari seluruh sistem mobil, hanya ada empat bidang kecil selebar tapak tangan yang benar-benar bersentuhan dengan dunia luar. Di sanalah seluruh berat kendaraan ditopang, seluruh gaya dipindahkan, dan seluruh keselamatan dipertaruhkan.
Mari sejenak menyelami apa yang dialami ban ketika kita menginjak pedal gas melintasi jalanan sambil bersenda gurau bersama keluarga.
Beban yang Ditopang
Asumsikan anda menggunakan mobil sejuta umat, Toyota Avanza G. Versi lama mobil ini menggunakan ban 185/70 R14. Menurut spesifikasi pabrikan, Gross Vehicle Weight mencapai 1.585 kg (berat mobil ditambah penumpang dan bagasi yang disarankan produsen). Dengan percepatan gravitasi 9,8 /s2, maka beban yang ditopang empat roda adalah F= GVW x g = 1.585 kg x 9,8 m/s2= 15.533 Newton.
Karena beban ditopang empat ban, maka masing-masing ban menerima beban sekitar 3.883 Newton atau setara kurang lebih 396 kg.
Angka ini menjadi lebih mencengangkan ketika kita sadar bahwa beban hampir 400 kilogram tersebut hanya ditopang oleh luas tapak ban sekitar 185 cm² yang mungkin tidak lebih lebar dari setengah lembar kertas A4.
Dengan beban sebesar itu dan luas tapak yang terbatas, tekanan yang diterima ban adalah 3.883N/183 Cm2. Hasil dari perhitungan dan konversi didapat tekanan yang diterima satu ban mencapai 30,4 psi.
Angka yang familiar bukan?
Ya, ini hampir sama dengan tekanan udara di dalam ban itu sendiri. Ini menjelaskan satu fakta penting: mobil sejatinya ditopang oleh udara, bukan oleh kekakuan karet ban. Tekanan sebesar itu bekerja terus menerus selama mobil melaju.
Gesekan yang Mengendalikan Mobil
Ban tidak hanya menopang beban. Dia juga bertanggungjawab atas akselerasi, deselarasi/pengereman dan menjaga arah manuver mobil saat menikung. Semua itu bergantung pada gaya gesek antara ban dan aspal. Gaya gesek adalah fungsi dari gaya yang diterima ban dann koefisien gaya gesek.
Koefisien gaya gesek antara ban dan aspal dipengaruhi jenis permukan jalan, kondisi permukaannya mulus atau tidak, kondisi kembangan/alur ban, jenis compound dan tingkat keausan ban.
Pada kondisi aspal kering koefisien gesek berkisar 0,7 – 0,9. Pada aspal basah, nilai koefisien gesek menurun karena adanya lapisan tipis/film air yang mengurangi kontak langsung antara ban dan permukaan jalan menjadi sekitar 0,5-0,7.
Dengan asumsi pada kondisi kering koefisien gaya gesek 0,8, maka setiap tapak ban mampu menyediakan 0,8 x 3883N = 3106 N. Gaya sebesar itu bekerja agar mobil bisa melaju, berhenti dan bermanuver dengan stabil.
Kondisi berbeda jika permukaan jalan basah. Koefisien gaya gesek turun. Asumsikan jadi 0,5. Maka gaya gesek menjadi 0,5 x 3883N = 1941N. Gaya yang lebih kecil menyebabkan jarak pengereman menjadi lebih jauh, ban lebih mudah kehilangan traksi dan resiko slip serta aquaplaning meningkat. Penurunan koefisien gesek berarti kehilangan kendali yang lebih besar dalam situasi darurat. Inilah alasan mengapa alur ban menjadi sangat krusial.
Salah satu fungsi utama alur ban adalah memecah dan membuang lapisan air di bawah ban sehingga kontak ban dan aspal tetap terjaga. Dengan kata lain alur ban membantu mempertahankan gaya gesek dan kendali mobil.
Jutaan Deformasi yang Tak Terlihat
Ban yang berputar berarti bagian bawah yang berfungsi sebagai tapak mengalami deformasi. Karena ban berputar, maka setiap bagian permukaan ban bergiliran berfungsi sebagai tapak. Pada kecepatan 60km/jam ban bergerak 1000 m/menit. Jika keliling ban 1,93m maka ban berputar 518 kali/menit. Dengan kata lain mengalami 518 kali deformasi setiap menit. Bayangkan berapa banyak deformasi jika perjalanan menempuh waktu 1 jam, 5 jam bahkan 10 jam.
Yang dimaksud deformasi ban adalah setiap kali satu titik pada ban menyentuh jalan, titik tersebut akan memipih karena beban kendaraan. Proses dari bentuk bulat menjadi rata (kontak dengan jalan) lalu kembali bulat lagi disebut sebagai satu siklus deformasi. Karena ban berputar 518 kali per menit, maka setiap elemen struktur ban (karet, kawat baja, dan nilon) ditekan dan dilepaskan sebanyak 518 kali.
Deformasi yang terjadi berulang-ulang dalam waktu singkat ini menghasilkan panas. Inilah alasan mengapa ban menjadi hangat atau panas setelah mobil dikendarai.
Semakin cepat mobil melaju (misal 100 km/jam dengan kurang lebih 863 deformasi per menit), semakin tinggi frekuensi deformasi yang harus ditanggung struktur ban, yang mempercepat keausan jika tekanan angin tidak sesuai.
Oleh karena itu, menjaga tekanan angin ban sangat penting. Ban yang kurang angin akan mengalami deformasi yang jauh lebih ekstrem (lebih memipih), sehingga menghasilkan panas berlebih yang bisa menyebabkan ban pecah secara tiba-tiba (blowout).
Ban Kerja Keras, Kita Harus Lebih Peduli
Agar perjalanan lebih aman dan nyaman, berikut beberapa langkah penting yang disarankan PT Bridgestone Indonesia, yang memasok ban untuk mobil-mobil paling laris di Indonesia.
- Periksa Kondisi Ban
Tekanan angin: Pastikan sesuai rekomendasi pabrikan dan ukur dengan alat standar.
Cek indikator TWI (Tire Wear Indicator): jika alur sudah menyentuh tonjolan 1,6 mm, ban wajib diganti.
Cek kondisi fisik ban: Hindari penggunaan ban yang retak, sobek, atau memiliki benjolan.
Ban cadangan/tire repair kit: Pastikan siap digunakan dan tekanan ban cadangan idealnya lebih tinggi ±5 psi.
Spooring & balancing: Lakukan setiap 8.000–10.000 km atau bila setir bergetar/menarik ke satu sisi. Spooring dan balancing akan membantu mendukung laju kendaraan lebih stabil, ban lebih tahan lama dan membuat pengendara lebih nyaman. - Waspada Saat Musim Hujan
Hindari genangan untuk mencegah hydroplaning.
Kurangi kecepatan dan jaga jarak aman (minimal 3 detik; 4–5 detik saat hujan).
Pastikan wiper berfungsi baik dan cairan washer terisi. - Perhatikan Beban Kendaraan
Jangan melebihi kapasitas angkut.
Sesuaikan tekanan angin jika membawa muatan penuh. - Pastikan Kondisi Pengemudi
Berkendara hanya saat fit dan cukup istirahat. Jika merasa lelah atau mengantuk, sebaiknya istirahat.
Hindari manuver mendadak, pengereman agresif, dan akselerasi berlebihan.


