Kuala Lumpur – Malaysia mulai muncul sebagai pusat manufaktur lain di Asia Tenggara, setelah Thailand dan Indonesia.
Produsen mobil listrik terbesar China, BYD, mengumumkan pada Agustus rencana untuk membangun pabrik perakitan mobil listrik di Perak. Produsen mobil listrik skala kecil Leapmotor juga akan memulai perakitan lokal di pabrik Stellantis yang sudah ada di Gurun, Kedah.
Xpeng juga mengumumkan rencananya untuk mulai merakit mobilnya di Malaysia. Mulai tahun depan Xpeng menggandeng EP Manufacturing Bhd(EPMB).
Produsen mobil Cina yang sudah memproduksi mobil listrik di Malaysia termasuk Chery, dan TQ Wuling. Zeekr mungkin akan melakukannya di Automotive Hi-Tech Valley milik DRB-Hicom di Tanjong Malim.
Produsen mobil listrik China menghadapi jepitan perang harga domestik yang brutal dan hambatan perdagangan akibat faktor geopolitik. Pilihannya mencari pasar luar negeri.
Impor mobil listrik secara utuh (CBU) ke Indonesia dan Malaysia, tidak lagi bebas pajak mulai tahun depan. Situasi itu berpotensi menyebabkan harga naik. Agar tetap kompetitif mau tidak mau harus merakit mobil listrik mereka di negara tersebut.
Dengan kombinasi insentif industri, lokasi strategis, dan kebijakan yang mendorong produksi dalam negeri, Malaysia kini kian serius menjadi pemain penting dalam rantai pasok mobil listrik regional sekaligus menantang dominasi lama Thailand dan Indonesia di sektor otomotif Asia Tenggara.


