Suasana pameran mobil yang ramai pengunjung

Mampukah Pergeseran Tren Mengubah Lanskap Industri?

Jakarta – Pasar otomotif nasional mengkerut. Namun dibalik penurunan pasar secara global, ada segmen-segmen yang punya cerita lain. Bila melihat tren yang muncul, mungkin akan mengubah lansekap industri otomotif nasional di masa depan.

Kontraksi ini merupakan cerminan dari kondisi ekonomi domestik yang kompleks, mencakup melemahnya daya beli masyarakat, pengetatan kebijakan pembiayaan, dan ketidakpastian ekonomi global.

ICE

Kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) masih mendominasi pasar dengan pangsa hampir 80%. Namun mobil berbahan bakar konvensional mengalami penurunan yang konsisten dan signifikan. Penjualan mobil ICE (+LCGC) mencapai 934.444 unit pada 2023, menurun menjadi 762.495 unit di 2024. Grafiknya semakin turun menjadi 628.543 unit pada 2025. Pergeseran ini menunjukkan bahwa meskipun ICE masih mendominasi, momentumnya terus melambat seiring kenaikan harga bahan bakar dan munculnya pilihan-pilihan baru.

Segmen LCGC juga mengalami tekanan. Sepanjang tahun ini total penjualan mencapai 122.686 unit dengan pangsa pasar 15,3% terhadap total penjualan nasional. Jika dibandingkan 2024 terjadi penurunan 30,1%. Ini menandai penurunan untuk pertamakalinya paska Covid.

HEV

Kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV) tumbuh konsisten dan stabil. Tampaknya konsumen memilih hybrid sebagai jalan tengah yang realistis. Penjualan wholesales HEV pada 2025 mencapai 65.943 unit. Pangsa pasarnya 8,2% meningkat dari 2024 yang tercatat 6,9% dari total volume pasar otomotif nasional.

Nama-nama besar seperti Toyota Innova Zenix Hybrid (23.934 unit), Suzuki Fronx (10.458), Suzuki XL7 Hybrid(9.759 unit) dan Honda HR-V Hybrid (6.040 unit) mendominasi.

Merek-merek Jepang masih kuat di segmen ini. Pendatang baru masih sulit menggoyang persepsi kualitas yang sudah berakar di benak konsumen.

BEV

Kendaraan Battery Electric Vehicle (BEV) menunjukkan akselerasi yang luar biasa. Penjualan BEV mencapai 103.931 unit selama 2025, dengan pangsa pasar 12,9% dari total penjualan nasional. Dibandingkan tahun 2024, segmen ini tumbuh 140,65%. Insentif pemerintah berhasil mendorong pertumbuhan secara signifikan.

BYD mendominasi segmen ini dengan penjualan mencapai 30.670 unit sepanjang 2025 atau 29,5% dari total penjualan BEV nasional. Menyusul jagoan lama, Wuling (12.710 unit). Merk-merk dengan kinerja yang cukup bagus sepanjang tahun ini adalah Vin Fast dan Chery.

Menelisik lebih detail, BYD Atto menjadi bintang mobil listrik tahun ini. BYD baru menjual di triwulan ke-empat 2025, city car ini langsung jadi mobil listrik dengan penjualan terbanyak sepanjang tahun yaitu 22.582 unit. Menyusul kemudian; BYD M6(10.862 unit), BYD Sealion (8.402 unit) dan Denza D9 (7.474 unit).

PHEV

Segmen PHEV menunjukkan pertumbuhan yang eksplosif. Penjualan PHEV mencapai 5.270 unit selama 2025, melonjak 3.775% dibandingkan penjualan 2024 sebesar 136 unit. Ledakan penjualan ini mencerminkan semakin banyaknya konsumen yang menginginkan efisiensi mobil listrik untuk penggunaan jarak pendek dan kebebasan terhadap kebutuhan infrastruktur isi ulang listrik untuk perjalanan jarak jauh.

Apakah BEV akan meneruskan pertumbuhan eksponensialnya atau giliran hybrid yang melesat? Bagaimana segmen ICE menjawab tantangan ini? Pergeseran lansekap industri otomotif nasional tampaknya akan semakin jelas pada tahun 2026. Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *